Senin, 13 Agustus 2012


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
                 Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan dan meningkatkan kontrak dengan oran lain karena komunikasi dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bawa komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang kompleks yang melibatkan tingkah laku dan hubungan serta memungkinkan individu berasosiasi dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu merupakan peristiwa yang terus berlangsung secara dinamis yang maknanya dipacu dan ditransmisikan. Untuk memperbaiki interpretasi pasien terhadap pesan, perawat harus tidak terburu-buru dan mengurangi kebisingan dan distraksi. Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti dipakai untuk menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali telah lupa atau ada kesulitan dalam mengorganisasi dan mengekspresikan pikiran. Instruksi yang berurutan dan sederhana dapat dipakai untuk mengingatkan pasien dan sering sangat membantu.
                     Komunikasi adalah proses interpersonal yang melibatkan perubahan verbal dan non verbal dari informasi dan ide. Kominikasi mengacu tidak hanya pada isi tetapi juga pada perasaan dan emosi dimana individu menyampaikan hubungan ( Potter-Perry, 301 ). Komunikasi pada lansia membutuhkan peratian khusus. Perawat harus waspada terhadap perubahan fisik, psikologi, emosi, dan sosial yang memperngaruhi pola komunikasi. Perubahan yang berhubungan dengan umur dalam sistem auditoris dapat mengakibatkan kerusakan pada pendengaran. Perubahan pada telinga bagian dalam dan telinga mengalangi proses pendengaran pada lansia sehingga tidak toleran teradap suara. Berdasarkan hal – hal tersebut kami menulis makalah ini yang berjudul “ komunikasi pada lansia.




















BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Komunikasi
          Komunikasi merupakan suatau hubungan atau kegiatankegiatan yang berkaitan dengan masalah hubungan atau dapat diartikan sebaagai saling tukar-menukar pendapat serta dapat diartikan hubungan kontak antara manusia baik individu maupun kelompok. (Widjaja, 1986 : 13) Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan kontak dengan orang lain. (Potter & Perry, 2005 : 301) komunikasi yang biasa dilakukan pada lansia bukan hanya sebatas tukar-menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dan hubungan intim yang terapeutik.

B. Pengertian Lansia
Lansia  adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai “usia kemunduran” yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Lansia juga identik dengan menurunnya daya tahan tubuh dan mengalami berbagai macam penyakit. Lansia akan memerlukan obat yang jumlah atau macamnya tergantung dari penyakit yang diderita. Semakin banyak penyakit pada lansia semakin banyak jenis obat yang diperlukan. Banyaknya jenis obat akan menimbulkan masalah antara lain kemungkinan memerlukan ketaatan atau menimbulkan kebingungan dalam menggunakan atau cara minum obat. Disamping itu dapat meningkatkan resiko efek samping obat atau interaksi obat.
C. Komunikasi Dengan Lansia
              Dalam komunikasi dengan lansia harus diperhatikan faktor fisik, psikologi, (lingkungan dalam situasi individu harus mengaplikasikan ketrampilan komunikasi yang tepat. disamping itu juga memerlukan pemikiran penuh serta memperhatikan waktu yang tepat.
 a).  Ketrampilan komunikasi
    Listening/Pendengaran yang baik yaitu :
 a. Mendengarkan dengan perhatian telinga kita.
 b. Memahami dengan sepenuh hati, keikhlasan dengan hati yang jernih.
 c. Memikirkan secara menyeluruh dengan pikiran jernih kita.
 b).  Tekhnik komunikasi dengan lansia
  1.  Tekhnik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik.
kecepatan dan tekanan suara yang tepat dengan menyesuaikan pada topik pembicaraan dan kebutuhan lansia,berbicara dengan lansia yang dimensia dengan pelan.tetapi berbicara dengan lansia demensia yang kurang mendengar dengan lebih keras hati-hati karena tekanan suara yang tidak tepat akan merubah arti pembicaraan


 Pertanyaan yang tepat kurang pertanyaan yang lansia menjawab ya atau tidak..
 Berikan kesempatan orang lan untuk berbicara hindari untuk mendominasi ,pembicara sebaiknya mendorong lansia untuk berperan aktif  Merubah topik pembicaaraan dengan jitu menggunakan objek sekitar untuk topik pembicaraan bila lansia tidak interest lagi
 Contoh : siapa yang membelikan pakaian bapak/ibu yang bagus ini?
 Gunakan kata-kata yang sederhana dan konkrit gunakan makan satu buah setelah makan dari pada menggunakan makanan yang berserat
 Gunakan kalimat yang simple dan pendek satu pesan untuk satu kalimat.

2.  Teknik nonverbal komunikasi
1.      Perilaku : ramah tamah, sopan dan menghormati, cegah supaya tidak acuh tak acuh, perbedaan.
2.       Kontak mata : jaga tetap kontak mata.
3.       Expresi wajah : mereflexsikan peraaan yang sebenarnya.
4.      Postur dan tubuh : mengangguk, gerakan tubuh yang tepat, meletakan kursi dengan tepat.
5.       Sentuhan : memegang tangan, menjbat tangan.

3.  Teknik untuk meningkatkan komunikasi dengan lansia.
1.      Memulai kontak saling memperkenalkan nama dan berjabat tangan.
2.       Bila hanya menyentuh tangannya hanya untuk mengucapaka pesan-pesan verbal dan merupak metode primer yang non verbal.
3.      Jelaskan tujuan dari wawancara dan hubungan dengan intervensi keperawatan yang akan diberikan.
4.       Muali pertanyaan tentang topik-topik yang tidak mengancam.
5.       Gunakan pertanyaan terbuka dan belajar mendengar yang efektif.
6.       Secara periodic mengklarifikasi pesan.
7.       Mempertahankan kontak mata dan mendengar yang baik dan mendorong untuk berfokus pada informasi.
8.       Jangan berespon yang menonjolkan rasa simpati.
9.       Bertanya tentang keadaan mental merupakan pertanyaan yang mengancam dan akan mengakiri interview.
10.   Minta ijin bila ingin bertanya secara formal.
            c. Lingkungan wawancara.
 a) Posisi duduk berhadapan
 b) Jaga privasi.
 c) Penerangan yang cukup dan cegah latar belakang yang silam
 d) Kurangi keramaian dan berisik
 e) Komunikasi dengan lansia kita mencoba untuk mengerti dan menjaga kita mengekspresikan diri kita sendiri efek dari kmunikasi adalah pengaruh timbal balik seperti cermin.





 D. Kendala-kendala dan hambatan dalam berkomunikasi dengan lansia
v     Gangguan neurology serring menyebabkan gangguan bicara dan berkomunikasi dapat juga karena pengobatan medis, mulut yang kering dan lain-lain.
v      Penurunan daya pikir sering menyebabkan gangguan dalam mendengarkan, mengingat dan respon pada pertanyaan seseorang
v        Perawat sering memanggil dengan “nenek”, “sayang”, dan lain-lain. Hal tersebut membuat tersinggung harga dirinya dianjurkan memanggil nama panggilannya.
v       Dianjurkan menegur dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
v       Perbedaan budaya hambatan komunikasi, dan sulit menjalin hubungan saling percaya.
  Gangguan sensoris dalam pendengarannya
v     Gangguan penglihatan sehingga sulit menginterprestasikan pesan-pesan non-verbal.
v       “Overload” dari sensoris : terlalu banyak informasi dalam satu waktu atau banyak orang berkomunikasi dalam yang sama sehingga kognitif berkurang.
v      Gangguan fisik yang menyebabkan sulit berfokus dalam pembicaraan misalnya focus pada rasa sakit, haus, lapar, capai, kandung kemih penuh, udara yang tidak enak, dan lain-lain.
v     Hambatan pada  pribadi : penurunan sensoris, ketidaknyamanan fisik, efek pengobatan dan kondisi patologi, gangguan fungsi psikososial, karena depresi atau dimensia, gangguan kontak dengan realita.
v       Hambatan dalam suasana/lingkungan tempat wawancara : ribut/berisik, terlalu banyak informasi dalam waktu yang sama, terlalu banyak orang yang ikut bicara, peerbedaan budaya, perbedaan, bahasa, prejudice, dan strereotipes
E. Keterampilan Komunikasi Terapeutik Pada Lansia
 a. Keterampilan Komunikasi Terapeutik, dapat meliputi :
o       Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan lama wawancara
o          Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab, berkaitan dengan pemunduran kemampuan untuk merespon verbal.
o        Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang sosiokulturalnya.
o           Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan dalam berfikir abstrak
o        Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung, duduk dan menyentuh pasien.
o        Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan distress yang ada
o        Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan dari wawancara pengkajian.
o         Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan cermat dan tetap mengobservasi.
o       Tempat mewawancarai diharuskan tidak pada tempat yang baru dan asing bagi pasien.
o       Lingkungan harus dibuat nyaman dan kursi harus dibuat senyaman mungkin.
o        Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif terhadap, suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan.
o        Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien.
o        Memperhatikan kondisi fisik pasien pada  waktu wawancara.
b. Prinsip Gerontologis untuk komunikasi
o       Menjaga agar tingkat kebisingan minimum.
o        Menjadi pendengar yang setia, sediakan waktu untuk mengobrol.
o        Menjamin alat bantu dengar yang berfungsi dengan baik.
o        Yakinkan bahwa kacamata bersih dan pas.
o       Jangan berbicara dengan keras/berteriak, bicara langsung dengan telinga yang dapat mendengar dengan lebih baik.
o       Berdiri di depan klien.
o       Pertahankan penggunaan kalimat yang pendek dan sederhana
o       Beri kesempatan bagi klien untuk berfikir.
o       Mendorong keikutsertaan dalam aktivitas sosial seperti perkumpulan orang tua, kegiatan rohani.
o       Berbicara pada tingkat pemahaman klien.
o       Selalu menanyakan respons, terutama ketika mengajarkan suatu tugas atau keahlian
F. Prinsip-Prinsip Etik Pelayanan Kesehatan Pada Lansia
Beberapa prinsip etika yang harus dijalankan dalam pelayanan pada derita usia lanjut adalah
o       Empati : istilah empati menyangkut pengertian : “simpati atas dasar pengertian yang mendalam”. Dalam istilah ini diharapkan upaya pelayanan geriatric harus memandang seorang lansia yang sakit dengan pengertian, kasih sayang dan memahami rasa penderitaan yang dialami oleh penderita tersebut. Tindakan empati harus dilaksanakan dengan wajar, tidak berlebihan, sehingga tidak memberi kesan over-protective dan belas kasihan. Oleh karena itu semua petugas geriatric harus memahami proses fisiologi dn patologik dari penderita lansia.
o       Yang harus dan “jangan” : prinsip ini sering dikemukakan sebagai non-malefecience dan beneficence, pelayanan geriatric selalu didasarkan pada keharusan untuk mengerjakan yang baik untuk penderita dan harus menghindari tindakan yang menambah penderitaan (harm) bagi penderita. Terdapat adagium primum non nocere (“yang terpenting jangan membuat seseorang menderita“). Dalam pengertian ini, upaya pemberian posisi baring yang tepat untuk menghindari ras nyeri, pemberian analgesic (kalau perlu dengan devirat morfin) yang cukup, pengucapan kata-kata hiburan merupakan contoh berbagai hal yang mungfkin mudah dan praktis untuk dikerjakan.
o        Otonomi : yaitu suatu prinsip bahwa seorang individu mempunyai hak untuk menentukan nasibnya, dan mengemukakan keinginanya sendiri. Tentu sxsaja hak tersebut mempunyai batasan, akan tetapi dibidang geriatric hal tersebut berdasar pada keadaan, apakah penderita dapat membuat putusan secara mendiri dan bebas.
o       Keadilan : yaitu prinsip pelayanan geriatric harus memberikan perlakuan yang sama bagi semua penderita. Kewajiban untuk memperlakukan seorang penderita secara wajar dan tidak mengadakan perbedaan atas dasar karakteristik yang tidak relevan.















BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
                Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertaankan dan meningkatkan kontrak dengan oran lain karena komunikasi dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bawa komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang kompleks yang melibatkan tingka laku dan hubungan serta memungkinkan individu berasosiasi denan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu merupakan peristiwa yang terus berlangsung secara dinamis yan maknanya dipacu dan ditransmisikan.
              Komunikasi pada lansia tidaklah begitu sulit dibutuhkan teknik-teknik tersendiri untuk melakukan komunikasi pada lansia banyak hal-hal yang harus diperhatikan diantaranya :
  1. Teknik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik.
  2. Tehknik untuk wawancara.
  3.  Kendala dan hambatan dalam komunikasi.
  4.  Mood dan privasi
  5.  Aspek-aspek yang harus diperhatikan.
 B.Saran
            Komunikasi pada lansia baiknya dilakukan secara bertahap supaya mudah dalam pemahamannya. Lansia merupakan kelompok yang sensitive dalam perasaannya oleh sebab itu, saat komunikasi harus berhati-hati agar tidak menyinggung perasaannya.
DAFTAR PUSTAKA
      http//komunikasi pada lansia.com
      http//konsep komunikasi .co.id



















KENALI MAKNA KEBAHAGIAAN

  • KEBAHAGIAAN adalah sesuatu yang bersifat maknawi yang tidak bisa dilihat oleh mata, tidak bisa di ukur secara kuantitas, tidak bisa ditukar dengan kekayaan apapun, serta tidak bisa dibeli dengan  dinar dan dolar


  • Kebahagiaan merupakan sesuatu yang dapat dirasakan oleh manusia dalam hatiunya. Hal it berupa jernihnya jiwa, tenangnya hati, lapangnya dada, dan longgarnya perasaan

  • kebahagiaan ialah sesuatu yang tumbuh dari dalam diri manusia dan tidaklah muncul dari luar diri manusia

  • Kebahagiaan adalah pencurahan, pengorbanan dan pemberian sesuatu

  • kebahagiaan itu berupa kegembiraan dari dalam ketika mengerjakan sesuatu perbuatan yang mulia

  • Kebahagiaan adalah karunia dan anugerah yang diberikan oleh Allah Swt. kepada hamba-Nya yang dia kehendaki, sebagai balasan bagi orang-orang yang telah mengerjakan perbuatan-perbuatan yang mulia

  • kebahagiaan ialah perasaan yang begitu dalam dengan ridha dan qana'ah


BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Osteosarkoma adalah penyakit kuno yang masih belum lengkap (sulit) dipahami. Istilah “sarcoma” diperkenalkan oleh ahli bedah Inggris John Abernathy pada 1804 dan ini berasal dari akar Yunani yang berarti “gemuk/pembesaran.”  Pada 1805, ahli bedah Perancis  Alexis Boyer (ahli bedah pribadi untuk Napoleon) pertama menggunakan istilah “osteosarcoma.” Boyer menyadari bahwa osteosarkoma adalah berbeda dari entitas lainnya lesions tulang, seperti osteochondromas (exostoses).
Bukti lebih lanjut mengenai pemikiran dan investigasi mengenai penyakit ini ditemukan oleh pertengahan 1800an. Peltier mencatat pada tahun 1847, Baron yang menunjukkan kepada Guillaume Dupuytren pengetahuan tentang  patologik secara garis besar Tampilan osteosarkoma ketika dia menulis berikut:
“Osteosarkoma, yang benar adalah pemerosotan dari kanker tulang, manifesnya sendiri dalam bentuk putih kemerah-merahan atau massa, lardaceous dalam tahap dari penyakit; tetapi tampak di lain waktu, poin dari kelemahan, masalah cerebriform, extravasating darah, dan berwarna putih atau cairan dari viscid konsistensi dalam interior.”
Osteosarkoma harus dibedakan dengan kondrosarkoma dan fibrosarkoma, di mana juga terjadi pada tulang. Ostesarkoma memiliki sifat khas berupa, perjalanan klinisnya yang agresif dan mempuyai prognosis yang jelek.

Osteosarcoma sangat langka di kalangan anak-anak (0,5 juta per kasus per tahun pada anak-anak <y 5). Namun, insiden yang terus meningkat dengan umur, semakin meningkat secara dramatis di masa remaja, sesuai dengan pertumbuhan remaja yang cepat.
Dari data yang ada, disebutkan bahwa di Amerika Serikat, akibat osteosarkoma adalah 400 kasus per tahun (4,8 juta per penduduk <20 y). keseluruhan 5 tahun untuk menilai kelangsungan hidup pasien didiagnosis antara 1974 dan 1994 adalah 63% (59% untuk laki-laki, 70% untuk perempuan). Insiden ini sedikit lebih tinggi pada kulit hitam daripada kulit putih.
Osteosarkoma adalah kematian bentuk kanker musculoskeletal yang paling sering menyebabkan pasien mati dari penyakit metastatik berkenaan dengan paru-paru. Kebanyakan osteosarkoma muncul sebagai kurungan lesions yang cepat berkembang dalam bidang tulang panjang. Ada 3 daerah-daerah terpencil adalah tulang paha, yang proximal tulang kering, dan proximal humerus, tetapi hampir setiap tulang dapat terpengaruh.
Tidak semua osteosarkoma timbul dalam kurungan sama, karena beberapa bagian dapat menjadi nyata dalam jangka waktu sekitar 6 bulan (sinkronis osteosarcoma), atau beberapa bagian dapat dicatat selama lebih dari 6 bulan (metachronous osteosarcoma). Hal itu tersebut adalah jelas multifocal osteosarcoma langka, tetapi ketika terjadi, ia cenderung pada pasien muda kurang dari 10 tahun.
Kasus-kasus klasik atau primer yang meliputi 75% osteosarkoma. Osteosarkoma dapat pula timbul secara sekunder pada tulang yang menjadi tempat kelainan yang sudah ada terlebih dahulu. Dalam kategori ini, kelainan yang paling sering mempengaruhinya yaitu penyakit Paget.
Osteosarkoma yang merupakan penyulit dan penyakit Paget, sering muncul pada tulang-tulang pipih yang memiliki lesi “pagetik”; terjadi pada usia diatas 50 tahun dan sangat agresif. Hanya beberapa penderita dapat bertahan hidup lebih dari 2 tahun.


BAB II
TINJAUAN KASUS
2.1 Definisi Kasus
Meskipun kebanyakan orang mungkin berpikir tulang adalah keras atau bagian “mati,” namun, tulang adalah bagian yang kompleks, jaringan hidup. Seperti semua jaringan lain dari tubuh, ia mengandung sel hidup. Itu adalah sarcoma yang menyerang bagian tulang. Sarcoma adalah tumor ganas (kanker) yang punya potensi menyebar. Osteosarkoma bukan penyakit turunan. Gen memang ikut berperan. Tapi, porsinya hanya 3 persen.
Osteosarkoma merupakan penyakit yang sel kankernya (ganas) ditemukan di tulang. Ini adalah yang paling umum dari jenis kanker tulang. Osteosarkoma paling sering terjadi di remaja dan dewasa muda. Kanker ini sebagian besar menyerang remaja pria yg sering mengkonsumsi obat penambah tinggi badan. anak laki-laki yang memiliki tinggi diatas rata-rata memiliki potensi yang lebih besar untuk itu. Pada anak-anak dan remaja, tumor paling sering muncul di sekitar tulang lutut. Gejala-gejala dan kesempatan untuk pemulihan pada anak-anak dan remaja yang muncul akan tampak sama.
Setelah osteosarkoma telah pertama ditemukan, tes lain dapat dilakukan untuk mengetahui apakah kanker sel telah menyebar ke bagian tubuh yang lain.  Hal ini disebut pementasan. Saat ini, tidak ada sistem untuk pementasan osteosarkoma. Tetapi, kebanyakan pasien dikelompokkan tergantung pada apakah kanker hanya ditemukan di satu bagian tubuh (diterjemahkan penyakit) atau apakah kanker telah menyebar dari satu bagian tubuh lain (metastatic penyakit) sehingga akan berpengaruh terhadapa rawatan penyakit. Berikut ini adalah kelompok yang digunakan untuk osteosarkoma:
·        Local osteosarcoma
Kanker sel belum tersebar di luar tulang atau dekat jaringan di mana kanker berasal.
·        Metastatic osteosarcoma
Kanker sel telah menyebar dari tulang yang kanker berasal ke bagian tubuh yang lain. Kanker yang paling sering menyebar ke paru-paru.  Mungkin juga menyebar ke tulang lain. Tentang satu di lima pasien dengan osteosarkoma dengan kanker yang telah metastasized pada saat itu dapat terdiagnosa. Dalam multifocal osteosarkoma, tumor muncul dalam 2 atau lebih tulang, tetapi belum menyebar ke paru-paru.
·        Metastatic penyakit di diagnosa
Penyakit Metastatic adalah kanker yang telah menyebar dari tempat di mana ia mulai bagian tubuh yang lain. Bila kanker telah menyebar ke paru-paru, masa adalah lebih baik jika kanker adalah satu-satunya di paru-paru dan di tempat-tempat lebih sedikit di paru-paru. Untuk kanker yang telah menyebar ke tulang, ramalannya adalah lebih baik jika tumor adalah semua tulang yang sama.
  Berulang
Penyakit berulang berarti kanker telah datang kembali (recurred) setelah itu telah dirawat.  Hal itu dapat datang kembali dalam jaringan dimana pertama kali atau mungkin datang kembali di bagian lain dari tubuh. Osteosarkoma paling sering terjadi dalam paru-paru.  Ketika osteosarkoma ditemukan, biasanya dalam waktu 2 sampai 3 tahun setelah perawatan selesai. Nanti kambuh lagi adalah mungkin terjadi, tetapi langka.
2.2 Etiologi
Penyebab tumor ini hampir semua keganasan yang lain, masih merupakan teka-teki yang belum terpecahkan. Radiasi dan virus onkogenik, yang telah terlihat dalam terjadinya keganasan yang lain, telah dianggap sebagai agen penyebab.
Beberapa faktor etiologik telah diindentifikasi pada osteosarkoma orang dewasa yang lebih jarang terjadi, tetapi hanya sedikit kasus saja. Osteosarkoma epidemik dilaporkan pada pelukis lempeng jam radium disebabkan oleh penumpukan radioaktif jam radium didalam tulang (lihat Bab 18), Thorotrast-dulu menggunakan bahan kontras radiografik yang mengandung radioaktif thorium dioxide erat hubungannya dengan timbulnya osteosarkoma seperti pada neoplasma hati.
Selain itu, juga terdapat faktor kecenderungan genetik. Osteosarkoma pada masa kanak-kanak mungkin sekali memiliki dasar genetik, meskipun tak seorangpun pernah menemukannya. Mungkin kelainan genetik pada kromosom 13 dapat menyebabkan osteosarkoma pada kelompok pasien ini. Terjadi dysplasia tulang, termasuk penyakit Paget, dysplasia fibrosa, enchondromatosis, dan turun temurun beberapa exostoses dan retinoblastoma (kuman-garis bentuk) adalah faktor risiko. Kombinasi konstitusional mutasi genetik dari RB (germline retinoblastoma) dan terapi radiasi dikaitkan dengan risiko tinggi terutama pengembangan osteosarkoma, Li-Fraumeni Sindrom (mutasi germline p53), dan Rothmund-Thomson Sindrom (autosomal yang terdesak asosiasi dari bawaan cacat tulang , dysplasia rambut dan kulit, hypogonadism, dan katarak).
2.3 Epidemologi
Osteosarkoma merupakan 20% dari seluruh kanker tulang ganas yang dapat terjadi di mana-mana dari  tulang, biasanya di luar batas yang paling dekat metaphyseal pertumbuhan tulang piring. Yang paling sering terjadi adalah pada tulang paha (42%, 75% dari yang terpencil di tulang paha), tulang kering (19%, 80% dari yang di proximal tulang kering), dan humerus (10%, 90% dari yang di yang proximal humerus). Lokasi lain yang signifikan adalah tengkorak dan rahang (8%) dan panggul (8%). Dan lebih dari 50% kasus terjadi pada daerah lutut.
2.4 Patologi
Osteosarkoma paling sering terjadi pada rongga medular daerah metafisis tulang panjang. Ujung bawah femar, bagian atas tibia, dan bagian atas humerus adalah tempat yang paling sering terkena. Osteosarkoma jarang terjadi di periosteum (osteosarkoma periosteal) atau pada permukaan luar (osteosarkoma parosteal).
Secara makrokopis, osteosarkoma tampak sebagai massa lunak dengan daerah nekrosis dan pendarahan. Dapat ditemukan pembentukan tulang dan kartilago. Tulang yang terkena membesar akibat adanya tumor, yang dapat menginfitrasi rongga medulla dan jaringan lunak di luar tulang. Secara radiologist, osteosarkoma tampak sebagai lesi-lesi destruktif irregular. Derajat kalsifikasi menentukan radioopasitas.
Osteosarkoma merupakan neoplasma agresif yang menginfitrasi secara luas. Metastasis hematogen, paling sering pada paru, terjadi secara dini. Jarang terjadi metastasis limfatik dan tumor pada kelenjar limfe.
Secara mikrokopis, osteosarkoma tersusun dari osteoblas ganas disertai anaplasia dan laju mitonik yang tinggi. Berdasarkan derajat anaplasia, osteosarkoma diklasifikasikan menjadi derajat I-III; pasien tumor derajat I memiliki daya tahan hidup lebih lama
Osteoid dalam jumlah yang bervariasi dihasilkan oleh sel-sel tumor dan dapat mengalami kalsifikasi (tumor tulang). Adanya osteoid pada tumor tulang ganas menegakkan diagnosis osteosarkoma. Pembentukan kartilago juga sering terjadi dan dapat luas (osteosarkoma kondroblastik). Pada beberapa kasus, dapat terlihat banyak sel raksasa. Pada kasus lain, ruang vascular kavernosa mendominasi gambaran histologik (osteosarkoma teleangiektatik).
2.5 Manifestasi Klinis
Adapun gejala atau tanda yang ditimbulkan yang paling umum gejala osteosarkoma adalah rasa sakit dan bengkak di kaki atau lengan. Hal ini paling sering terjadi di lagi tulang dari tubuh – seperti di atas atau di bawah lutut atau di lengan atas dekat bahu. Sakit mungkin buruk selama bergerak atau di malam hari, dan benjol atau bengkak dapat mengembangkan di kawasan hingga beberapa minggu setelah mulai sakit. Sakit yang berlebihan dapat membangunkan di malam hari atau sakit saat istirahat menjadi perhatian khusus. Dalam beberapa kasus, pertama tanda penyakit itu yang rusak lengan atau kaki, karena kanker telah melemahkan tulang untuk membuatnya rentan untuk istirahat.

Pada kasus ini, resiko osteosarkoma paling sering dilihat pada remaja anak laki-laki, dan bukti-bukti menunjukkan bahwa remaja yang tinggi daripada rata-rata memiliki risiko tambahan untuk mengembangkan penyakit. Anak-anak yang telah mewarisi salah satu langka sindrom kanker juga berada di risiko tinggi untuk osteosarkoma. Sindrom ini termasuk retinoblastoma (tumor jahat yang yang berkembang di retina, biasanya pada anak-anak berusia di bawah umur 2) dan Li-Fraumeni Sindrom (jenis mewarisi mutasi genetik). Karena terhubungan ke radiasi lain, dapat memicu DNA mutasi, anak-anak yang telah menerima perawatan radiasi untuk episode sebelum kanker juga meningkat di risiko untuk osteosarkoma.
2.6 Penatalaksanaan
2.6.1 Jenis Perawatan
Berbagai jenis perawatan tersedia untuk pasien dengan osteosarkoma. Beberapa perawatan yang standar (yang saat ini digunakan terapi), dan beberapa sedang diuji dalam uji klinis. Perawatan klinis dalam percobaan adalah penelitian studi yang dimaksudkan untuk membantu meningkatkan perawatan saat ini atau memperoleh informasi tentang perawatan baru untuk pasien dengan kanker. Ketika uji klinis menunjukkan bahwa perlakuan yang baru lebih baik dari standar perawatan, pengobatan baru yang dapat menjadi standar perawatan.
Jika diduga bahwa masalah adalah osteosarkoma, sebelum pertama biopsi, penderita dapat merekomendasikan dokter spesialis yang disebut pembedah tulang ahli onkologi.


1.   Perawatan Standar
Tiga jenis perawatan standar yang digunakan:
·        Bedah (mengambil yang kanker dalam suatu operasi).
·        Kemoterapi (menggunakan obat untuk membunuh kanker sel)
·         Terapi radiasi (menggunakan tinggi dosis x-ray untuk membunuh sel kanker).
Selain standar terapi ini, perawatan yang disebut perawatan biologis terapi sedang diuji untuk lokal dan metastatic osteosarcoma. Terapi biologis adalah perawatan yang menggunakan sistem kekebalan tubuh pasien untuk melawan kanker. Zat yang dibuat oleh badan atau dilakukan di laboratorium yang digunakan untuk meningkatkan, langsung, atau mengembalikan perlawanan alami tubuh terhadap kanker. Jenis kanker ini perawatannya disebut biotherapy atau immunotherapy.
A. BEDAH
Perawatan bedah untuk osteosarkoma terdiri dari amputasi baik atau operasi penyelamatan anggota badan. Saat ini, kebanyakan remaja dengan kasus osteosarkoma lengan atau kaki dapat ditangani dengan operasi penyelamatan anggota badan daripada amputasi. Dalam operasi penyelamatan anggota badan, tulang dan otot yang dipengaruhi oleh osteosarkoma disingkirkan, meninggalkan kesenjangan di tulang yang baik yang diisi oleh tulang cantum (biasanya dari tulang bank) atau lebih sering logam bagian badan khusus. Ini dapat tepat dicocokkan dengan ukuran yang cacat tulang. Risiko infeksi lebih tinggi dan patah tulang dengan tulang bank ini dan oleh karena itu penggantinya logam prostheses lebih umum digunakan untuk rekonstruksi dari tulang setelah pengangkatan tumor.
Jika kanker telah menyebar ke saraf dan pembuluh darah sekitar tumor aslinya pada tulang, amputasi (mengeluarkan bagian dari anggota badan bersama osteosarcoma) seringkali satu-satunya pilihan.
Ketika osteosarkoma telah menyebar ke paru-paru atau tempat lain, pembedahan mungkin juga dilakukan untuk menghapus tumor ini di lokasi yang jauh tersebut.
Semua pasien dengan osteosarkoma harus operasi untuk menghapus tumor, jika memungkinkan. Dokter mungkin hanya menghapus beberapa kanker dan bagian yang sehat dari jaringan di sekitar kanker. Ketika Tumor adalah dalam berat tulang, tulang harus dilindungi selama kegiatan untuk menghindari fraktur. Kadang-kadang semua atau sebagian dari lengan atau kaki mungkin akan dibuang (diamputasi) untuk memastikan bahwa semua yang diambil dengan kanker. Jika kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening, kelenjar getah bening yang akan dihilangkan (getah bening node pemotongan).
Pada pasien dengan osteosarkoma yang belum tersebar di luar tulang, peneliti menemukan tidak adanya perbedaan dalam keseluruhan hidup apakah pasien memiliki anggota badan-hemat operasi atau apakah mereka telah melakukan operasi dengan amputasi.  Bila kanker dapat dibawa keluar tanpa amputasi, perangkat buatan atau tulang dari tempat-tempat lain di dalam tubuh dapat digunakan untuk menggantikan tulang yang telah dibuang. Proses pembangunan kembali (kembali) merupakan bagian dari tubuh diubah dengan operasi sebelumnya disebut rekonstruksi operasi. Pilihan untuk rekonstruksi di operasi dengan pasien osteosarkoma tergantung pada banyak faktor, termasuk di mana letak tumor, bagaimana besarnya, usia pasien, dan lain sebagainya.
B. KEMOTERAPI
Kemoterapi biasanya diberikan baik sebelum maupun setelah operasi. Ia menghilangkan kantong kecil dari sel kanker di tubuh, bahkan yang terlalu kecil untuk tampil saat scan medis. Seseorang dengan osteosarkoma diberi obat kemoterapi intravena (melalui pembuluh darah) atau secara oral (dengan mulut). Obat memasuki aliran darah dan bekerja untuk membunuh kanker di bagian tubuh di mana penyakit telah menyebar, seperti paru-paru atau organ lain.
Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi dapat dilakukan dengan pil atau dimasukkan ke dalam tubuh dengan jarum lewat pembuluh darah atau otot.  Kemoterapi disebut perawatan sistemik karena obat memasuki aliran darah, perjalanan melalui tubuh, dan dapat membunuh sel kanker di seluruh tubuh. Kemoterapi dengan lebih dari satu obat disebut kemoterapi kombinasi.
Kadang-kadang kemoterapi adalah menyuntikkan langsung ke dalam wilayah dimana ditemukan kanker (kemoterapi daerah). Dalam osteosarkoma, operasi ini sering digunakan untuk menghapus lokal tumor kemoterapi dan kemudian diberikan untuk membunuh semua sel kanker yang tetap dalam tubuh. Kemoterapi diberikan setelah operasi dalam penghapusan kanker yang disebut kemoterapi pembantu. Kemoterapi juga dapat diberikan sebelum operasi yang mengecilkan kanker sehingga dapat dihapus selama operasi; ini disebut neoadjuvant kemoterapi.

NEOADJUVANT KEMOTERAPI
Kebanyakan perawatan osteosarkoma menggunakan protokol untuk periode awal selama sistemik kemoterapi sebelum reseksif definitif dari dasar tumor (reseksi dari metastases untuk pasien dengan penyakit metastatik). Patolog yang menilai nekrosis di tumor yang terdeteksi. Pasien dengan lebih besar atau sama dengan 90% nekrosis di dasar tumor setelah induksi kemoterapi memiliki prognosa lebih baik dibandingkan dengan kurang nekrosis. Pasien dengan nekrosis kurang (<90%) di dasar Tumor berikut awal kemoterapi memiliki pengulangan lebih tinggi dalam 2 tahun pertama dibandingkan dengan pasien yang lebih baik dengan jumlah kebekuan (≥ 90%). Foto Modalitas seperti dinamis resonan magnetik imaging mungkin bisa noninvasive menawarkan metode untuk menilai nekrosis. Kurang nekrosis tidak boleh diartikan dengan arti yang telah kemoterapi tidak efektif; tarif untuk menyembuhkan pasien dengan sedikit atau tidak kebekuan berikut induksi kemoterapi jauh lebih tinggi dibandingkan harga obat untuk pasien yang tidak menerima kemoterapi.
Rawatan osteosarkoma termasuk kemoterapi (penggunaan obat medis untuk membunuh sel kanker dan bersembunyi di kanker) diikuti oleh operasi (untuk menghapus sel kanker atau Tumor) dan kemudian kemoterapi lebih lanjut (untuk membunuh semua sisa sel kanker dan meminimalkan kesempatan dari kanker datang kembali). Bedah sering dapat secara efektif menghapus kanker tulang, sementara kemoterapi dapat membantu menghilangkan sisa sel kanker di tubuh.


C. TERAPI RADIASI
Menggunakan terapi radiasi x-ray atau energi sinar yang tinggi lainnya untuk membunuh sel kanker dan Tumor yang bersembunyi. Radiasi untuk osteosarcoma umumnya berasal dari mesin di luar tubuh (eksternal terapi radiasi).
2.   Perawatan dalam percobaan klinis
Untuk beberapa pasien, mengambil bagian dalam percobaan klinis mungkin merupakan pilihan terbaik dalam perawatan. Percobaan klinis adalah bagian dari proses penelitian kanker. Uji klinis dilakukan untuk mengetahui apakah pengobatan kanker yang baru itu aman dan efektif atau lebih baik dari standar perawatan.
Banyak dari hari ini standar perawatan untuk kanker didasarkan pada awal uji klinis. Pasien yang mengambil bagian dalam percobaan klinis mungkin menerima perlakuan standar atau termasuk orang-orang yang pertama untuk menerima perlakuan yang baru.
Pasien yang mengambil bagian dalam uji klinis juga membantu meningkatkan cara dalam penanganan kanker di masa depan. Bahkan bila uji klinis tidak efektif untuk memimpin perawatan baru, mereka sering menjawab pertanyaan penting dan membantu penelitian berkembang.
Beberapa uji klinis hanya mencakup pasien yang belum menerima perlakuan. Lain, tes uji coba untuk perawatan pasien kanker yang belum pulih dengan lebih baik. Ada juga tes uji klinis cara baru untuk berhenti dari kanker berulang (datang kembali) atau mengurangi efek samping dari pengobatan kanker.
Uji klinis ada di banyak negara bagian. Dalam daftar berikut perawatan untuk berbagai tahapan, link ke hasil pencarian untuk saat ini adalah termasuk uji klinis untuk masing-masing bagian. Untuk beberapa jenis kanker atau tahap, mungkin tidak ada apapun yang tercantum didalamnya.
3.   Perawatan Baru
Perawatan tengah dikembangkan dengan penelitian obat kemoterapi baru. Penelitian lain juga difokuskan pada peran faktor pertumbuhan tertentu mungkin berperan di pengembangan osteosarkoma. Penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan obat baru untuk memperlambat pertumbuhan faktor tersebut sebagai cara untuk merawat kanker. Untuk osteosarkoma yang tidak dapat dihilangkan dengan operasi, studi yang saat ini sedang berlangsung untuk menguji perawatan yang baru menggunakan kombinasi kemoterapi dan lokalisasi, radiasi dosis tinggi.
2.6.2 Prosedur Diagnostik
  • Biopsi-Biopsi harus dilakukan oleh ahli bedah tulang
  • Definitif resection
  • Reseksi dari dasar luka dan apapun berkenaan dengan metastases paru-paru             adalah penting untuk disembuhkan.    Reseksi ini harus dilakukan dengan pembedahan tulang (dasar luka) dan yang berkenaan dengan bedah dada (tebece paru metastases).
  • Praoperasi (neoadjuvant) kemoterapi sering perlu bantuan ahli bedah melakukan reseksi dengan penyusutan tumor serta memungkinkan penilaian histopathologic tumor secara responsif, yang utama untuk memperkirakan hasil.


Untuk mendiagnosa osteosarkoma, tenaga kesehatan mungkin akan melakukan ujian fisik, memperoleh lebih detil sejarah medis, dan ketertiban X-ray untuk mendeteksi perubahan dalam struktur tulang. Tenaga kesehatan mungkin juga memerintahkan resolusi magnetik (MRI) scan daerah yang terjangkit, dan akan menemukan daerah yang terbaik untuk biopsi dan menunjukkan apakah osteosarkoma telah menyebar dari tulang dekat ke otot dan lemak. Tenaga kesehatan juga akan biopsi tulang untuk mendapatkan sampel dari tumor untuk pemeriksaan di laboratorium. Ini adalah pembedahan tulang yang terbaik yang dilakukan oleh ahli bedah berpengalaman dalam perawatan dari osteosarkoma (pembedah tulang ahli onkologi).
Kadang-kadang juga biopsi jarum, dengan panjang rongga jarum untuk mengambil sampel dari tumor. Obat bius lokal yang biasanya digunakan di daerah yang sedang dibiopsi. Alternatif lain, mungkin menawarkan biopsi yang terbuka, di mana bagian dari tumor akan dihapus dalam ruang operasi oleh ahli bedah sedangkan pasien di bawah kontrol obat bius.
Jika diagnosa osteosarkoma terjadi, tenaga kesehatan akan memesan CT scan tulang dada, kadang-kadang, studi MRI tambahan. Ini akan ditampilkan jika kanker telah menyebar ke mana-mana bagian tubuh yang melebihi tumor asli. Tes Ini akan diulang setelah pengobatan dimulai untuk menentukan seberapa baik itu bekerja dan apakah kanker terus menyebar.
2.6.3 Efek samping Jangka pendek dan Jangka Panjang
Beberapa perawatan kanker menyebabkan efek samping yang terus muncul atau tahunan setelah perawatan kanker telah berakhir. Ini disebut efek akhir. Efek akhir dari pengobatan kanker mungkin termasuk masalah fisik, perubahan dalam suasana hati, perasaan, berpikir, belajar atau memori, dan memiliki kedua kanker (jenis kanker baru). Beberapa efek akhir dapat diobati atau dikontrol.
Amputasi memiliki efek samping jangka pendek dan jangka panjang. Lamanya minimal 3 sampai 6 bulan hingga satu orang belajar menggunakan bagian badan buatan/palsu (lengan atau kaki), dan ini hanya awal jangka panjang psikologis dan rehabilitasi sosial.
Dengan operasi penyelamatan anggota badan, satu biasanya dimulai pada lipatan lutut atau bagian tubuh yang terkena dampak dengan segera. gerakan pasif yg terus menerus (BPS) mesin, yang terus menerus merekatkan dan memperkuat lutut yang dapat digunakan untuk meningkatkan gerakan untuk tumor di sekitar lutut. Terapi fisik dan rehabilitasi untuk 6 hingga 12 bulan berikut operasi biasanya memungkinkan anak untuk berjalan pada awalnya dengan berjalan kaki atau alat bantu topang dan kemudian tanpa perangkat.
Awal komplikasi setelah operasi termasuk infeksi dapat memperlambat penyembuhan dari luka bedah, dan logam yg berhubung dengan bagian badan perangkat atau bank tulang mungkin perlu diganti dalam jangka panjang. mungkin masalah yang terlambat lainnya termasuk patah tulang dari bank atau kegagalan bank untuk menyembuhkan tulang untuk anak tulang, yang mungkin lebih memerlukan pembedahan.
Banyak dari obat-obatan yang digunakan dalam kemoterapi juga membawa risiko baik masalah jangka pendek dan jangka panjang. Efek jangka pendek termasuk anemia, pendarahan yang tidak normal, dan peningkatan risiko infeksi karena kerusakan pada tulang sumsum, serta kerusakan ginjal dan penyimpangan haid. Beberapa obat membawa risiko radang kandung kemih dan pendarahan ke dalam air kencing, gangguan pendengaran, dan kerusakan hati Lainnya dapat menyebabkan masalah jantung dan kulit. Tahun-tahun setelah kemoterapi untuk osteosarkoma, pasien memiliki peningkatan risiko kanker lainnya yang berkembang.
2.6.4 Kesempatan Sembuh
Hasil penelitian terakhir kesempatan sembuh antara 60% – 80% untuk penderita yang kankernya belum menyebar
Studi baru-baru ini telah dilaporkan bahwa tingkat kelangsungan hidup dari 60% menjadi 80% adalah memungkinkan untuk osteosarkoma yang belum tersebar di luar tumor, tergantung pada keberhasilan kemoterapi.
Osteosarkoma yang telah tersebar tidak dapat selalu diobati dengan berhasil. Selain itu, seseorang yang osteosarkoma terletak di lengan atau kaki umumnya memiliki lebih dari satu prognosa penyakit yang melibatkan tulang rusuk,  bahu, punggung, atau tulang panggul.
Masa (kesempatan pemulihan) sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebelum dan setelah perawatan. Masa dari saat osteosarkoma diobati tergantung pada berikut:
  • Lokasi yang bengkak
  • Ukuran yang bengkak
  •  Tahapan dari kanker (apakah yang tersebar di mana ia mulai dari tempat lain ke dalam tubuh)
  • Usia pasien
  •  Hasil tes darah dan tes lainnya
  • Jenis Tumor (berdasarkan bagaimana melihat sel kanker di bawah mikroskop) Setelah osteosarkoma diolah, prognosis juga tergantung pada berikut:
  • Berapa banyak yang dibunuh oleh kanker kemoterapi; dan / atau
  •  Berapa banyak dari tumor telah diambil oleh operasi. Perlakuan perawatan  tergantung pada pilihan berikut:
  •  Lokasi yang bengkak
  •   Tahapan dari kanker
  •  Apakah kanker recurred (kembali) setelah perawatan
  •  Usia dan kesehatan umum pasien